NEWS TICKER

Viral!! Blunder Kasus Narkotika Anak Wakil Walikota

Rabu, 18 November 2020 | 3:57 pm
Reporter: Oki
Posted by: Indra Rubadi
Dibaca: 409
JPU Adip sedang menunjukan barang bukti sabu sabu ke terdakwa dalam layar tv, foto istimewa Faktakhatuliatiwa.com

KOTA TANGERANG, Faktakhatulistiwa.com – Blunder kasus narkotika yang lagi booming di pengadilan Negeri Kota Tangerang, dengan terdakwa Akmal Sohairudin Jamil bin Sahrudin warga Cipondoh Kota Tangerang bersama toga temannya Syarif, Dede, dan Muhamad Tofik, dengan barang bukti sabu-sabu seberat 0,51 gram dan 0,31 gram, serta ganja 7,3 gram.

Ikhwal kejadian, terdakwa di tangkap oleh Buser narkoba Polda Metro Jaya pada hari Sabtu tanggal 6 Juni 2020 lalu, ketika sedang menuju rumah terdakwa Dede, yang lebih dulu diamankan polisi.

Dari pernyataannya di ruang sidang PN Tangerang, Akmal Sohairudin Jamil mentrasfer uang sebesar 800 Ribu rupiah ke terdakwa Dede untuk membeli sabu-sabu 1 gram seharga 1,6 juta. Dan sampai ditangkap para terdakwa belum menggunakan barang haram tersebut.

Terdakwa Akmal Sohairudin Jamil diketahui sebagai anak dari wakil Walikota Tangerang, yang ketika ditangkap sedang menuju rumah Dede di kawasan Taman Bunga No 5 Kota Tangerang. Setelah Dede dan Syarifudin di amankan lebih dulu Pukul 00-15 malam hari.

“Dari keduanya lebih dulu di amankan oleh satuan Dit Narkoba Polda Metro Jaya. Polisi menemukan satu klip bening warna putih Sahu sabu seberat 0,51 gram. Setelah di kembangkan Di temukan di atas kasur barang bukti yang sama seberat 0,31 gram dan ganja 7,3 gram. Total barang bukti 0,82 gram dan ganja 7,3 gram,” ujar Riskiyono selaku Anggota Buser yang menangkap para terdakwa.

Ketika berkas dari Polda dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Tangerang, P21 di tolak oleh JPU Karena ada kejanggalan. Dan berkas Akmal Sohairudin Jamil bin Sahrudin harus sama dengan berkas Dede, Syarifudin dan Muhamad Tofik. Sehingga berkas di P19 oleh JPU.

Sekira satu bulan lebih berkas dari penyidik Polda Metro Jaya kembali ke Kejaksaan Negeri Kota Tangerang menjadi P21, hingga ke 4 tersangka di tingkatkan naik tingkatan menjadi terdakwa.

Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kota Tangerang menerima P21 berkas Akmal, Dede, Syarifudin dan M Tofik, dan terdakwa langsung ditahan karena tidak ada asesmen rehab dari penyidik Polda Metro Jaya.

“Kalau ada asesmen rehab, saya bawa ke RSKO yang di rujuk oleh penyidik,” ujar Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kota Tangerang di hadapan wartawan yang meliput berita di Kejaksaan dan Pengadilan.

“Setelah sidang sudah memasuki saksi ahli hukum pidana dan dokter dari yayasan yang dihadirkan untuk meringankan para terdakwa. Para terdakwa harus di rehabilitasi Karena korban,” kata Kuasa hukum terdakwa, Sri Afriani mengatakan.

“Jelas-jelas sebagai korban penyalahgunaan narkoba, dan berhak mendapatkan rehabilitasi ,” ujar Sri seusai sidang yang sempat ditunda karena Majelis Hakim R Aji Suryo., SH., MH sakit.

Pemerhati kebijakan publik & hukum ahli pidana Dr. Dwi Seno Wijanarko., SH., MH, yang juga selaku dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, mengomentari bahwa peristiwa hukum tersebut senyatanya dapat dilakukan rehabilitasi bagi pengguna yang sudah ketergantungan tersebut,.

“Namun demikian apabila asesmen dari pihak medis yang dimohonkan oleh penyidik tidak ada. ini yang menjadi sesuatu yang tak lazim atau sesuatu yang tidak lumrah,” ujar Dwi.

Dwi pun mengatakan, tanpa asesmenpun Hakim bisa memutus di pasal 127 Karena hakim memiliki kewenangan.

“Pasal 127 maksimal 4 tahun atau di bawa 1 tahun dengan catatan rehabilitasi apabila ada asement. Untuk memastikan kemana yayasan rehabilitasi tersebut. Kalau memang pengguna, seharusnya BNN dapat segera menghantar dan memasukan para terdakwa ke RSKO Jakarta timur, namun dapat juga berdasarkan putusan pengadilan agar pengguna menjalani rehabilitasi,” Tambah Dwi Seno.

Dikatakannya, Pasal 114 itu yang tepat untuk menuntut dan memutuskan perkara ini. Unsurnya sudah terpenuhi.

“Mentrasfer uang sama saja menyuruh, membeli, menukar, ditukar, membelanjakan, dibelanjakan, perekusor bersekongkol kejahatan Narkotika. Sedang barang bukti 0,51 gram 0,31 gram = 0,82 gram ditambah ganja 7,3gram. Celah pasal 127 sudah tertutup dengan adanya barang bukti yang diamankan oleh penyidik. Apa lagi para terdakwa belum memakai barang bukti sabu sabu dan ganja yang sudah di belinya. Walaupun alasanya untuk dipakai diri sendiri tidak bisa untuk alasan penegakan hukum,” tukasnya.

© 2020 Fakta Khatulistiwa. All Rights Reserved.