TANGERANG, Faktakhatulistiwa.com – Delapan siswa kelas XII mengundurkan diri dari SMKN 6 Kota Tangerang lantaran ditengarai terlibat aksi perkelahian sesama pelajar.

Hal tersebut diungkapkan Kepala SMKN 6 Kota Tangerang Ariasari Anggraini saat melakukan audensi dengan beberapa aktifis pendidikan yang mempertanyakan persoalan tersebut, Selasa (8/11/2022).

Ariasari menjelaskan, pengunduran diri dari kedelapan siswa yang ditengarai sudah lebih dari satu kali terlibat perkelahian tersebut sudah disetujui oleh para guru, dan telah melalui prosedur yang sudah diamanahkan.

“Kami tidak mengeluarkan, tapi kedelapan siswa itu mengundurkan secara sukarela, dan sudah diplenokan,” ungkap Ariasari di ruang kerjanya.

Ia menjelaskan, sebelum pengunduran, kedelapan siswa tersebut ditengarai sempat berurusan dengan pihak berwajib lantaran terlibat aksi tawuran.

“Jadi mereka saat ini masih wajib lapor di Polsek,” ungkapnya.

Ia berujar, pihaknya terpaksa menerima pengunduran diri dari kedelapan siswa tersebut, lantaran dikhawatirkan dapat menjadi contoh yang kurang baik dari siswa lainya.

“Mohon maaf, sudah bukan lagi rahasia senioritas masih melekat, dan mereka yang mengundurkan diri adalah senior, dan kami khawatir menjadi contoh yang kurang baik bagi adik-adik kelasnya,” ungkap Ariasari.

Ia menjelaskan, pengunduran diri dari kedelapan siswanya tersebut sebelumnya telah dilakukan berbagai pembinaan dengan melibatkan orangtua siswa yang saat itu turut terlibat dalam perkelahian.

“Jadi sebenarnya dua orang yang terlibat perkelahian, sisanya ikut dalam merencanakan, ada 19 orang yang terlibat, dan semuanya mendapatkan sanksi yang sesuai porsinya, hanya saja yang kedelapan siswa ini terpaksa kami terima pengunduran dirinya karna sebelumnya sudah mendapatkan sanksi karna terlibat tawuran dengan sekolah lain,” jelas dia.

Bahkan sebelum pengunduran diri kedelapan siswanya tersebut pihaknya juga sudah memberikan pemahaman baik kepada siswa, dan orangtua siswa dihadapan para guru SMKN 6 Kota Tangerang.

“Didepan wali kelas mereka membacakan surat peringatan, dan mereka sudah sepakat untuk tidak terlibat segala macam bentuk kesalahan, apalagi perkelahian,” ungkap dia.

Ditemui terpisah, Saipul Basri aktivis sekaligus penggiat sosial mengaku mengapresiasi ketegasan yang ditunjukan oleh kepala SMKN 6 Kota Tangerang.

Namun demikian, Aktivis yang akrab disapa Bung Marcel menyesalkan tindakan pengunduran diri yang disebut terlampau dipaksakan lantaran kedelapan siswa tersebut duduk di tingkat akhir, sehingga dikhawatirkan mengganggu psikologis kejiwaan mereka terlebih dalam beberapa bulan kedepan mereka dihadapkan dengan proses kelulusan.

“Bahwa pengunduran diri dari beberapa siswa, dan orang tua sudah pasti disinyalir ada tekanan psikologi, mana ada yang sukarela dipecat kendati bahasanya mengundurkan diri ini mereka sebentar lagi lulus lho,” kata Bung Marcel.

Ia menilai ada penekanan yang diduga dilakukan guru, dan kepala sekolah lantaran lemahnya pembinaan karakter, dan pendidikan adab yang hanya mengutamakan prestasi belajar yang membuat kejadian terkesan SMKN 6 Kota Tangerang enggan disibukan dengan persoalan kenakalan remaja.

“Tidak bisa disangkal bahwa ini adalah akibat kinerja buruk, dan lemahnya kemampuan leader sekolah, kenapa kepala sekolahnya tidak ikutan mundur karna tidak mampu dalam melakukan pembinaan, dugaan penekanan agar mereka mengundurkan diri adalah langkah yang cepat untuk lepas tanggung jawab atau ogah ribed,” jelasnya.

Marcel menilai, dugaan penekanan – penekanan agar para siswa yang bermasalah untuk mengundurkan diri adalah preseden buruk bagi dunia pendidikan yang saat ini dibutuhkan menghadapi Indonesia tinggal landas sebagai negara yang surplus penduduk usia produktif.

“Saya yakin disiplin tanpa bimbingan dan contoh guru hanya siapa sia saja, jika kita tarik jauh kebelakang kenapa tidak kepala sekolahnya ikut mengundurkan diri juga,” ujar dia.

Masih menurut Bung Marcel, Berdasarkan data yang ada ada para guru dan kepala sekolah pun pernah tersandung permasalahan dugaan pelanggaran disiplin, etika ASN dan permasalahan pengangkatan kepala Komite SMKN 6 Kota Tangerang.

“Terjadinya perkelahian dan tawuran dapat dikatakan sebagai kurangnya pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh sekolah, Bila melihat kebelakang, sekolahpun disinyalir melakukan pelanggaran disiplin untuk kesekian kalinya sehingga kami mendesak Dinas Pendidikan untuk juga melakukan penekanan kepada jajaran SMKN 6 untuk mundur secara sukarela,” jelas dia.

Sumber : Istimewa
Editor : Yudha Faktakhatulistiwa.com

follow and like us:
Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan