NEWS TICKER

SAIH Gelar HPSN di Kebon Besar

Minggu, 21 Februari 2021 | 5:42 pm
Reporter: M.Rendy
Posted by: Indra Rubadi
Dibaca: 119
SAIH Gelar HPSN di Kebon Besar Kota Tangerang, foto istimewa Faktakhatulistiwa.com

KOTA TANGERANG, Faktakhatulistiwa.com – Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) digelar kelompok masyarakat di Kelurahan Kebon Besar, Batu Ceper Kota Tangerang. Minggu (21/02/2021).

Melibatkan Penggiat lingkungan hidup dari Saba Alam Indonesia Hijau (SAIH) sebagai narasumber berdiskusi dengan para mahasiswa yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Muhammadiyah Tangerang bersama kelompok masyarakat.

Perwakilan dari siswa Sekolah Dasar pun diikutsertakan dalam kegiatan tersebut, diperkenalkan pentingnya mengelola sampah sejak dini.

Menjadi fokus dalam pembahasan diskusi, pentingnya pemilahan sampah sejak dini dari diri sendiri dan keluarga umumnya dimulai dari sampah rumah tangga.

Dimana ada nilai ekonomis dari proses pemilahan sampah tersebut. Hal tersebut dijelaskan oleh Founder SAIH, Pahrul Roji dihadapan peserta diskusi dalam peringatan acara HPSN.

“Kita bisa mulai dari sampah rumah tangga, kita atur dengan pemilahan mana sampah yang bisa kita olah dan bernilai ekonomis dan mana yang harus kita buang, dari situ kita tidak merasa jijik dengan sampah, karena kita tahu itu sampah bekas kita,” ujar Pahrul Roji.

Diceritakan sebelumnya sejarah peringatan HPSN diadakan berdasar peristiwa di TPA Leuwi Gajah yang memakan ratusan korban jiwa.

Selain itu permasalahan sampah yang ada di Tangerang khususnya dan permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia secara umumnya.

Dalam diskusi banyak pertanyaan dari mahasiswa yang hadir, diantaranya persoalan perbedaan negara berkembang dan negara maju terkait pengelolaan sampah di negara-negara tersebut.

Pahrul Roji pun mengatakan bahwa ada beberapa negara maju mengekspor sampahnya ke Indonesia, lalu kemudian sampah tersebut dijadikan bahan bakar. Hal tersebut terjadi karena minimnya peraturan di dalam Negara Republik Indonesia terkait aturan impor tersebut.

“Tertulis dalam manifestnya keterangan barang yang dikirim adalah bahan baku, padahal kalo kita lihat secara langsung itu adalah sampah di negara-negara maju tersebut, sampai di Indonesia dijadikan sebagai bahan bakar pengganti kayu memasak tahu dan tempe, kita tidak tahu toksin apa di dalamnya, apakah ada dampak negatif dalam kandungan tahu tersebut,” jelasnya.

“Di negara-negara maju pengelolaan sampah makin beragam, contoh di Singapura sampah mereka diolah menjadi bahan baku pembangkit tenaga listrik, lalu limbahnya dijadikan bahan baku untuk mereklamasi pulau-pulau di negara mereka, hal ini sebagai contoh sisi nilai ekonomis dari proses pengelolaan sampah,” sambungnya.

Wacana pengolahan pengolahan sampah menjadi energi listrik sudah dimulai dari tahun 2018 di 12 Kota di Indonesia, diantaranya di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan. Namun menurut keterangan Pahrul Roji hal itu belum terwujud hingga saat ini.

“Pentingnya inovasi-inovasi baru dalam pengelolaan sampah, ya salahsatunya PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah), namun persoalan sampah jangan cuma menyalahkan pemerintah, di hari HPSN ini kita mulai dari diri Kita, penting memilah sampah dari sampah rumah tangga, sampah kita jadikan solusi bernilai ekonomis buat kita dari segala permasalahannya,” tutupnya.

© 2020 Fakta Khatulistiwa. All Rights Reserved.