NEWS TICKER

Penggusuran Yang Menyisakan Trauma dan Kekecewaan Warga Benda Kota Tangerang

Selasa, 1 September 2020 | 7:53 pm
Reporter: Indra
Posted by: Indra Rubadi
Dibaca: 517
Alat Berat Menggusur Rumah Warga Benda Kota Tangerang, foto istimewa Faktakhatulistiwa.com

KOTA TANGERANG, Faktakhatulistiwa.com – Aas salahseorang warga RT 02/01 Kp Baru Kecamatan Benda  menolak dibantu oleh petugas untuk mengemas barang barangnya  saat pengosongan lahan yang rencananya akan digunakan untuk proyek jalan tol.

Dirinya beralasan, dengan kedatangan juru sita dan beberapa polisi berpakaian lengkap justru malah menambah kepedihan bagi dirinya dan keluarganya, terlebih saat ini putrinya yang masih anak anak masih trauma dengan kehadiran petugas yang hendak menggusur rumah yang telah ditempatinya selama 30 tahun.

“Saya tau bapak juru sita dari PN, anak saya korban, ngga usah dibantuin saya akan ini (kemas) sendiri, ngga usah bapak bapak kesana aja anak saya korban pak, saya mohon pak RT aja yang bantu saya, saya ngga mau, anak saya trauma,”kata Aas seraya memohon agar puluhan petugas yang berpakaian lengkap tersebut pergi.

Meski kecewa rumahnya diratakan dengan tanah, Aas mengaku lebih memilih pasrah agar putrinya pulih dari trauma yang dialaminya tersebut.

Pasalnya sebelum proses eksekusi, putrinya tersebut seringkali menyaksikan langsung perlakuan kasar dari para oknum yang diduga melakukan intimidasi agar warga secepatnya menerima hasil putusan pengadilan yang dinilai warga tidak mencerminkan keadilan.

“Saya iklas, saya beresin sendiri tapi tolong bapa bapa (petugas) pergi, kasihan anak saya,”rengek Aas.

Berbeda dengan Aas, ratusan warga lainnya yang menolak rumahnya diratakan dengan tanah dan direlokasi ke rumah singgah yang dibayarkan oleh pihak JKC memilih untuk mengadukan nasibnya tersebut kepada pemkot dan DPRD Kota Tangerang.

Bahkan ratusan warga yang mengadukan nasibnya tersebut berencana untuk menginap di gedung DPRD kota Tangerang sampai ada kejelasan nasib rumah mereka yang telah diratakan dengan tanah kendati belum ada sepeserpun rupiah yang dibayarkan.

“Saya lebih baik mendirikan tenda disini (puspem) kalau memang kantor puspem ini dikunci,”kata Desi Sriyanti.

Desi menuturkan, harga yang ditawarkan oleh pihak JKC dinilainya sangat jauh dari yang diharapkan dan tidak memungkinkan untuk membeli rumah pengganti.

“Uang 2,6 juta permeter cukup apa mana bisa beli rumah,”jelasnya.

Untuk diketahui, Eksekusi pengosongan lahan untuk pembangunan Jalan Tol JORR II atau Serpong, Kunciran – Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) di Kampung Baru, Kecamatan Benda, Kota Tangerang pada Selasa (1/9/2020) diwarnai kericuhan.

Warga yang menolak untuk mengosongkan rumahnya terlibat saling dorong dengan aparat Kepolisian.

Tidak sedikit pula diantara mereka yang terlibat saling pukul. Amarah masyarakat memuncak saat alat berat dan tim pembebasan lahan mulai bergerak dan meringsek masuk ke rumah mereka.

“Kalian harus bayar dulu lahan kami. Jangan asal bongkar saja, kami berhak atas lahan kami,” ungkap salah seorang warga di lokasi kejadian.

Bahkan dalam eksekusi ini seorang warga jatuh pingsan akibat tak kuat menahan pilu rumah yang dia tempati sudah rata dengan tanah.

“Kalian biadab engga punya hati nurani,” lontar warga.

Nenek Lansia Bertahan Didalam Rumah

Bahkan, Ani seorang nenek berumur kurang lebih 100 tahun tak bisa berbuat apa – apa. Dirinya yang hanya bisa berbaring di lantai hanya bisa bertahan.

“Dia ibu saya pak. Dia lumpuh udah ga bisa berjalan, kami engga tau harus memindahkannya kemana,” ungkap Rohilah anak dari sang nenek.

Dengan beralaskan kain tipis, nenek Ani sesekali mengusap air mata. Dia meminta tolong kepada siapapun yang datang untuk bisa dapat membantunya.

“Tolong pak. Tolong saya,” lirih nenek Ani.

Pantauan di lokasi, pihak Kepolisian bersama aparat TNI mengawal eksekusi yang berlangsung. Sementara warga yang mulai resah mulai memindahkan barang milik mereka.

© 2020 Fakta Khatulistiwa. All Rights Reserved.