NEWS TICKER

Penasehat Hukum Korban di Usir Jaksa dan Hakim, Jaksa dan Hakim akan di Laporkan

Kamis, 19 November 2020 | 4:39 pm
Reporter: Oki
Posted by: Indra Rubadi
Dibaca: 1267
Penasehat Hukum korban berdebat dengan Hakim Subchi Eko Putro, foto istimewa Faktakhatulistiwa.com

KOTA TANGERANG, Faktakhatulistiwa.com – Ribut di ruang sidang anak Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada Kamis,19 November 2020. Penasehat hukum korban di usir Jaksa Triade Margareth dan Hakim Subchi Eko Putro Mantan Ketua pengadilan Negeri Rangkas Bitung.

Penasihat Hukum korban Mirzayadi SH, Bahtiar SH, mempertanyakan,

Ketimpangan menangani perkara pasal 82 nomor 35 undang-undang perlindungan anak tahun 2014, Kami mendampingi Korban dan keluarganya Karena ada ketimpangan dalam menangani perkara ini,” ujar Mirza kesal setelah di usir dari ruang sidang.

Kenapa kami sebagai penasehat hukum korban tidak di perbolehkan mendampingi saksi korban, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Triade Margareth SH Jaksa Kejaksaan Negeri Tangerang Selatan Mengatakan kepada Mirza

“Korban sebagai saksi dan orang tua korban dari awal tidak di dampingi Kuasa Hukum,” ujar mirza menirukan jaksa penuntut umum kejaksaan Tangerang selatan.

Saya menanyakan dasar hukum tidak boleh mendampingi di persidangan, dasar hukumnya JPU tidak bisa memberikan alasan ke penasehat hukum korban.

Hakim Tunggal Subchi Eko Putro SH MH juga menolak ke hadiran penasehat hukum korban di persidangan, alasan Hakim sidang tertutup tidak boleh pihak lain mengikuti persidangan, ketika di tanya dasar hukumnya oleh Bahtiar SH. Hakim Subchi Eko Putro juga bungkam tidak bisa meniawab.

Hakim Subchi Eko Putro menskor sidang Karena penasihat hukum korban di usir dari ruang sidang, setelah di konfirmasi ke Humas PN Tangerang, penasehat hukum korban dan orang tuanya di perbolehkan masuk ke ruang sidang dengan syarat tidak boleh ikut bicara.

Bahtiar dan Mirza mengatakan dalam ruang sidang tertutup saksi korban dan orang tuanya dimintai keterangan sesuai BAP, ketika kuasa hukum terdakwa mendapat kesempatan bertanya ke saksi korban dan orang tua korban, langsung mencecar dengan barang bukti yang tidak pernah korban lakukan.

Kuasa Hukum korban menanyakan WA (pesan Whatsapp -red) dan Foto kalau korban menunjukan barangnya keterdakwa, saksi korban menjawab murah amat diri saya, tidak mungkin saya lakukan semua itu sambil menangis Karna di tekan pengacara terdakwa.

Sapinah orang tua korban (bunga ) merasa kesal penanganan anaknya dari kepolisian sampai sidang di pengadilan hanya di jadikan bola, lempar sana lempar sini.

Di Polsek Pondok Aren juga Sapinah tidak boleh mendampingi anaknya oleh polisi. Sampai Kejaksaan juga di larang sama Bu Jaksa. Sekarang sampai pengadilan pun masih di larang tidak boleh mendampingi anaknya sebagai korban.

“Saya orang kampung buta hukum, ga ngerti hukum, paling tidak saya di kasih kesempatan bicara, setelah saya di bantu Pak Mirza sama Pak Bahtiar masalah untuk mendampingi anak saya supaya bisa mendapat hak hukumnya ternyata penasehat hukum juga dilarang sama Jaksa sama Hakim,” ujar Supinah sambil menyeka air mata.

“Saya juga tidak habis mengerti itu terdakwa Bramu Aji Joyo sampai sidang juga masih di dampingi bapak Kanit Polsek Pondok Aren, bahkan dari Lapas (Lembaga Pemasyarakatan -red) pun tidak ada dalam pendampingan anak sebagai terdakwa, juga dari pendamping psikologi juga tidak ada dalam pendampingan terdakwa Bramu Aji Joyo” ujar Bahtiar.

“Di luar sidang penasehat korban Firzayadi SH dan Bahtiar SH akan mengadukan Hakim dan Jaksa yang menangani perkara ini, Polisi juga akan kami kirimi surat pengaduan,” ujar Mirza.

Orang tuanya sendiri tidak di kasih tau bahkan di tutup-tutupi dalam penyidikan. Bahkan visum dari korban sebagai anaknya sendiri sampai detik ini orang tuanya tidak tahu dan belum pernah tau apa itu isi dalam tulisan fosum.

© 2020 Fakta Khatulistiwa. All Rights Reserved.