NEWS TICKER

Penabrak Maut diLippo diVonis 5 tahun 6 bulan

Selasa, 25 Agustus 2020 | 7:31 pm
Reporter: SEP
Posted by: Indra Rubadi
Dibaca: 418
terdakwa Aurelia Margaretha Yulia selama 5 tahun 6 bulan, foto istimewa Faktakhatulistiwa.com

KOTA TANGERANG, Faktakhatulistiwa.com – Nasib gadis penabrak maut di tangan Hakim Arif Budi cahyono SH MH di ruang sidang 3 Pengadilan Negeri (PN) Kota Tangerang Jalan TMP Taruna terdakwa hanya bisa memandangi lantai ruang sidang.

Setelah majelis hakim membaca amar putusan terdakwa pun masih tertunduk ketika Hakim mengucapkan hukuman bagi terdakwa Aurelia Margaretha Yulia selama 5 tahun 6 bulan, terdakwa langsung menengadahkan mukanya seperti tidak percaya dari tuntutan jaksa Haerdin selama 11 tahun penjara.

Uraian putusan majelis hakim Arif Budi cahyono SH MH,

“dari Restauran Sanjung Korea Lippo Karawaci terdakwa mengendarai mobilnya sendiri,” paparnya.

Terdakwa melihat HP (Hand Phone) nya yang bunyi dan tiba-tiba kendaraan terdakwa meluncur keluar dari jalan raya dan menabrak korbanya Andre Notjokusumo 51 tahun bersama anjingnya dan anak korban selamat karna terpisah dengan korban.

Keterangan saksi dan keterangan terdakwa tidak mengetahui seberapa kecepatanya, dari keterangan terdakwa sudah biasa mengendarai kecepatan tinggi dan tidak konsentrasi.

“Terdakwa sengaja mengendarai kendaraan kecepatan tinggi dan membahayakan orang lain, sebelum mengendarai kendaraan terdakwa sebelumnya meminum alkohol 4 jam sebelumnya dan dalam keadaan tidak sadar yang menurut aturan bahwa terdakwa tidak di ijinkan mengendarai kendaraan bermotor,” tambahnya.

Berdasarkan saksi dan visum Rumah Sakit, pertimbangan pembelaan kuasa hukum terdakwa, terdakwa mengidap penyakit bipora, terdakwa tidak mabok, sedangkan saksi melihat terdakwa setelah menabrak korbanya keluar dari mobil dalam keadaan jalan sempoyongan.

Majelis hakim bersependapat dengan kuasa hukum terdakwa bahwa terdakwa mengidap penyakit bipora dan infuskontroldeaoder, tetapi tidak menghilangkan dakwaan dan tuntutan karna bisa dimintain pertanggung jawab akibat perbuatanya.

Pembelaan kuasa hukum terdakwa bukan materai pokok perkara hanya meminta pertimbangan hukumanya di peringankan bukan minta di bebaskan.

Terdakwa telah terbukti bersalah sebagai mana dakwaan kesatu dengam barang bukti Satu Unit Mobil berikut STNK, SIM dan satu Unit HP di kembalikan ke terdakwa satu botol minuman merk souju di musnahkan.

Uraian majelis hakim akibat perbuatan terdakwa mengakibatkan trauma psikifisik kepada anak korban Andre, pemindanaan bukan alat balas dendam, kelamaan di dalam penjara akan membuat psikifisik terdakwa makin mengganggu terdakwa, terdakwa tulang punggung keluarga.

Mengadili aurelia Margareta Yulia anak dari Bahtir telah terbukti mengendarai kendaraan mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

Tuntut selama 5 tahun 6 bulan, Satu botol berikut isinya minuman keras merk Soju dan flasdis di musnahkan.

Jaksa penuntut umum Haerdin SH di luar sidang mengatakan,

“Hasil putusan hakim sementara pikir pikir dan akan di pertimbangkan, Saya akan laporan dulu ke Kasi Pidum,” ujar JPU haedir SH.

Kuasa hukum terdakwa Carles Situmorang SH

“Pada prinsipnya saya menghargai putusan pengadilan Karena klien Saya bersalah melanggar pasal yang di dakwakan jaksa penuntut umum,” jelasnya.

“Sejatinya Klaten kami masih keberatan putusan hakim, karna terdakwa mengidap penyakit bipolar dan tulang punggung keluarga,” tambahnya.

“Saya keberatan dan akan menggunakan hak kita untuk banding, Majelis hakim menjelaskan ada hal hal memberatkan, Majelis hakim tidak bisa menemukan fakta persidangan bahwa terdakwa ini mabok,” tegasnya.

“Terdakwa bisa menerima tetapi masih keberatan atas putusan 5 tahun 6 bulan,” ujar Carles di hadapan awak jurnalis.

Keluarga korban yang di hadiri istri dan anak almarhum Andre dan kakak iparnya yang selama ini ikut memperjuangkan keadilan hanya bisa menangis.

Winda kakak ipar almarhum Andre hanya bisa no komen sambil menyeka air mata, sedangkan orang tua terdakwa menangis karena merasa senang hukuman Aurelia bisa dibawah dari tuntutan jaksa.

© 2020 Fakta Khatulistiwa. All Rights Reserved.