NEWS TICKER

Majelis Hakim meradang JPU Tak Mampu Hadirkan Saksi Pelapor di Persidangan

Selasa, 29 September 2020 | 2:14 pm
Reporter: SEP
Posted by: Indra Rubadi
Dibaca: 60
Majelis Hakim Meradang, JPU PN Tangerang, foto istimewa Faktakhatulistiwa.com

KOTA TANGERANG, Faktakhatulistiwa.com – Sidang penggelapan dengan Nomor perkara 1677/pid/B.Tng/2020 di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang makin memanas.

Kali ini majelis Hakim Komarudin Sanjuntak. SH., MH harus mengeluarkan nada keras untuk Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menggelar perkara terdakwa Julisman Boesman (56).

Pekan lalu sidang ke 3 tanggal 21 September majelis Hakim sempat bersitegang dengan Alexsander Japen Silalahi. SH selaku kuasa hukum khusus terdakwa Julisman.

Pengacara terdakwa minta waktu untuk mengajukan esepsi atas dakwaaan terdakwa. Tetapi majelis hakim tidak mau memberikan waktu ke kuasa hukum terdakwa mengajukan esepsi. Sidang di tunda Senin 28 September 2020 oleh majelis hakim Komarudin Simanjuntak SH.

Ketika sidang di buka Senin 28 September  JPU Oktaviandi Samsurizal SH tidak mampu memghadirkan saksi pelapor Mimi Wijaya mantan istri Julisman dan Indra Salim. Alasan saksi masih di luar kota.

Hakim Ketua Komarudin dengan nada tinggi memperingatkan JPU, jangan kita di atur sama saksi ujarnya dengan lantang.sidang di undur tanggal 7 bulan Oktober 2020.

Alexsander Japen Silalahi di luar sidang merasa kecewa denga jaksa dan hakim yang menyidangkan perkara ini.

“Ada apa sama hakim sampai saya minta waktu untuk mengajukan esepsi aja di tolak. Sedangkan jadwal sidang pun masih di undur undur alasan saksi. Ini sidang sudah tidak fair,” ujar Alex.

Perlu di ketahui bahwa saksi pelapor dalam perkara ini juga telah di laporkan oleh klien kami di Polda Metro Jaya.

“Kami sudah rapatkan dengan rekan rekan tim Forum Wartawan Pemantau Peradilan (Forwara). Tim Forwara siap membantu mengawal menginvestigasi agar laporan terdakwa diproses sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.

Karena menurut informasi bahwa laporan terdakwa atas diri saksi pelapor dalam perkara ini di SP3 kan oleh penyidik Polda Metro Jaya.

“Kalau mau jujur ini perkara sudah di tolak 2 jaksa yang memeriksa perkara ini. Waktu di periksa jaksa penuntut umum Masni SH ini perkara sudah di P19. Ketika perkara ini balik lagi ke kejaksaan juga di tolak jaksa ke 2 dan di P19. Di tahun 2020 perkara ini tiba-tiba naik langsung ke Pengadilan. Ini yang membuat saya merasa heran. Ada apa dengan perkara ini,” jelasnya.

Sebenarnya Jaksa memaksakan perkara ini. Sesungguhnya hubungan hukum antara pelapor dengan terdakwa hanya sebatas pinjam meminjam uang dan pelapor telah mengajukan gugatan perdata dengan no perkara 845/PDT .G/2018/PN/TNG dan perkara tersebut sudah di putus hakim Wan prestasi.

“Dalam hal pinjaman ini terdakwa juga telah mengembalikan kepada pelapor sebesar 10 Milyar lebih. Tetapi itu sengaja di tutup tutupi¬† oleh saksi pelapor dalam perkara ini,” ujar Alex mengungkapkan.

Alex pun berharap, agar Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk adil dalam menggelar perkara ini.

“Saya melihat dalam perkara ini majelis hakim terlalu memihak sehingga sangat merugikan hak hukum Klien kami,” tukasnya.

© 2020 Fakta Khatulistiwa. All Rights Reserved.