NEWS TICKER

Kasus Arfiyani, Pergi Sehat Pulang Dalam Peti Jenazah

Kamis, 18 Februari 2021 | 4:33 pm
Reporter: Sandi Kurniawan
Posted by: Admin
Dibaca: 138

KABUPATEN TANGERANG, Faktakhatuliatiwa.com – Keluarga Afriyani, Pekerja Migran Indonesia (PMI) meminta keadilan dalam kasus yang menimpa anaknya. Mereka meminta para pihak yang terlibat pengiriman Afriyani sebagai pekerja imigran ilegal ditindak.

Akhir tahun 2020 terasa sangat berat bagi keluarga Badri (Ayah -red), Afriyani PMI yang ditemukan meninggal didalam koper di Arab Saudi akhir November 2020. Anak bungsu yang berangkat pada awal tahun 2020 dalam keadaan sehat harus pulang dalam peti Jenazah pada 31 Januari 2021 lalu.

Afriyani pertama kali ditemukan warga Arab Saudi yang curiga melihat koper besar tergeletak dipinggir jalan. Pihak KBRI mengabarkan bahwa Jenazah tersebut merupakan PMI tidak berdokumen berinisial A berusia 24 tahun asal Desa Bakung Kecamatan Kronjo Kabupaten Tangerang.

Berdasarkan hasil outopsi tidak ditemukan bekas luka atau bukti telah terjadinya kekerasan terhadap korban dan pihak kepolisian Arab Saudi sudah menangkap dua pelaku yang membuang Jenazah korban.

Pihak keluarga mengkonfirmasi bahwa A tersebut adalah Afriyani, pihak keluarga menyatakan bahwa usia tidak sama dengan yang di sebutkan KBRI. Afriyani menurut pihak keluarga berusia 19 tahun. Meski kasus pembuangan jenazah sudah ditangani, pihak keluarga merasa ada yang mengganjal, yaitu pihak-pihak yang mengirim Afriyani ke Arab Saudi belum ditangkap.

Ayah Korban mengatakan keluarganya sangat kehilangan atas musibah yang menimpa anak bungsunya, Badri menceritakan sebelum berangkat ke Arab Saudi anaknya sebenarnya sudah bekerja hingga akhirnya mendapatkan sebuah tawaran dari R, tetangga desanya yang mengaku sponsor tenaga kerja migran untuk bekerja sebagai pekerja migran di Arab Saudi.

“Awalnya keluarga melarang, tapi A tetap memaksa berangkat dengan alasan untuk membantu ekonomi keluarga dan banyak tetangga yang terlihat sukses setelah menjadi TKI,” ungkapnya sambil sesekali meneteskan air mata saat diwawancara awak media Faktakhatulistiwa.com.

Badri menambahkan, keluarga akhirnya melepas kepergian anaknya tersebut tanpa merasa curiga akan dijadikan sebagai tenaga migran tanpa dokumen. Awal Januari 2020 anaknya memberikan kabar bahwa sudah sampai di Arab Saudi dan mengaku mendapatkan pemberi kerja yang baik.

“Setelah 7 bulan bekerja akhirnya A mengaku tidak kuat lagi karena sering dimintai menaikan air galon dan tabung gas ke rumah dari lantai bawah, rumah pemberi kerjanya ada di lantai 3,” ungkapnya.

Badri menambahkan, akhirnya A kabur dari rumah pemberi kerja dan tinggal bersama kenalannya yang juga pekerja migran di Arab Saudi. A meminta keluarga tidak usah khawatir karena kondisi aman dan sehat saat itu.

“Akhir November tiba-tiba Ibu Kos tempat tinggal A melakukan panggilan video kepada keluarga untuk mengabarkan A telah meninggal dan meminta izin akan dimakamkan di Arab Saudi, esok sorenya saya malah dapet kabar A ditemukan didalam koper,” ungkapnya dengan sedih.

Badri melanjutkan bajwa sebelum berangkat, pihak keluarga tidak banyak diberitahukan terkait pengurusan dokumen A, sehingga kurang mengetahui terlalu terperinci terkait bagaimana A diberangkatkan oleh sponsornya.

“Saya berharap keadilan dan pelaku yang mengirim anak saya ditangkap, sehingga tidak ada lagi korban seperti anak saya dan memberikan efek jera bagi pelaku,” tandasnya.

Jalu Paman Arfiyani saat diwawancara, foto Sandi Kurniawan Faktakhatulistiwa.com

Jalu, paman korban mengatakan bahwa pekerja migran di Desa Bakung Kecamatan Kronjo merupakan hal yang sudah lumrah. Bahkan dari keluarga A sendiri ada dua orang yaitu istrinya dan keponakanya yang sudah berangkat ke Arab Saudi.

“Berangkat ke Arab Saudi seperti kasus A bagi keluarga bukan hal yang baru, selama ini normal-normal saja, meski sama-sama diberangkatkan oleh sponsor (bukan perusahaan) tapi diurus oleh orang berbeda dengan sponsor A,” ungkapnya.

Jalu menambahkan, bahwa selama A di Arab Saudi pihak keluarga hanya menerima satu kali transfer uang ke rekening kakaknya. Selebihnya selama 7 bulan sebelum kabur dari rumah pemberi kerja keluarga belum pernah mendapatkan transfer uang lagi.

“Waktu itu saya ingat sekali, A menstranfer uang sebesar Rp.2 juta untuk keperluan kakaknya membeli telpon genggam baru. Selebihnya tidak pernah lagi,” ungkapnya.

Jalu menambahkan, bahwa saat dipulangkan jenazah pada tanggal 31 Januari 2021 pihak keluarga tidak menerima barang-barang milik A, baik paspor maupun barang lainnya menurut keterangan BP2MI sudah tidak ditemukan.

“Saat ini juga kedua orang tua korban mengalami depresi karena kasus ini, terutama ibunya yang masih belum bisa berkomunikasi dengan orang lain,” tandasnya.

Lismia Elita, Kepala UPT BP2MI Serang mengatakan bahwa Afriyani diketahui diberangkatkan secara tanpa mengikuti prosedur resmi tapi diberangkatkan oleh sponsor bernama Romlah pada tahun 2019. penempatan ke Timur Tengah dengan majikan perseorangan sudah ditutup sejak 2015 berdasarkan permenaker 260 tahun 2015. Pengiriman secara resmi saat ini harus melalui perusahaan penyedia jasa atau P3MI yang sudah mendapat rekomendasi dari pemerintah.

“Apalagi keberangkatannya ini diduga terjadi pemalsuan dokumen mengingat Afriyani belum memiliki KTP waktu itu. Ini sangat berbahaya sekali, PMI menjadi tidak terlindungi demi keuntungan pribadi oknum sponsor yang memberangkatkan,” ungkapnya

Lismia menambahkan, pihaknya menghimbau kepada seluruh calon PMI untuk mencari informasi resmi perihal penempatan PMI ke luar negeri melalui Disnaker setempat atau UPT BP2MI di wilayah masing-masing.

“Jika ada indikasi pemberangkatan unprosedural atau ilegal, sebaiknya ditolak, karena tidak terjamin secara keaslian dokumen dan asuransi dan jangan percaya bahwa penempatana PMI ke Timur Tengah secara perseorangan sudah dibuka,” tandasnya.

Lismia saat dimintai pendapat tentang  masih adanya pengiriman PMI secara perseorang dari Kabupaten Tangerang meski secara resmi ditutup, dirinya membenarkan bahwa masih ada pengirima mengingat daerah tersebut marupakan salah satu kantung PMI ke Timur Tengah.

Kanit Reskrim Polsek Kronjo IPTU Soebardjo mengatakan bahwa Polsek Kronjo sampai saat ini belum menerima laporan terkait kasus A, baik terkait kasus pengiriman PMI non prosedural maupun kasus pemalsuan identitasnya.

Suandana, Kades Desa Bakung Kecamatan Kresek mengatakan bahwa pihak desa awalnya tidak mengetahui keberangkatan A ke Arab Saudi karena pihak desa tidak pernah mengeluarkan surat terkait pengantar keluar negeri maupun pembuatan kartu tanda penduduk untuk A.

“Kami melimpahkan kasus ini kepada pihak Disnaker Kabupaten Tangerang. Maling selalu lebih pintar daripada manusia pada umumnya, karena dalam perizinan apapun pihak sponsor (Romlah) tidak koordinasi dengan Pemerintah desa,” pungkasnya.

© 2020 Fakta Khatulistiwa. All Rights Reserved.