NEWS TICKER

Jaksa Bingung Menuntut Anak Wakil Walikota Tangerang

Selasa, 29 Desember 2020 | 11:12 am
Reporter: Oki
Posted by: Redaksi
Dibaca: 1734

KOTA TANGERANG, Faktakhatulistiwa.com – jaksa Penuntut Umum (JPU) bingung menuntuk Anak Wakil Walikota Tangerang, Akmal Soheirudi Jamil Bin Sachrudin Wakil Walikota Tangerang dengan adanya sorotan media OnLine yang selalu memantau perjalanan Sidang di Pengadilan Negri Tangerang.

Jumpa pers pada tanggal 24/12/2020, Prof Edy Kustino, dan Richard Nayoan SH, sidang sudah di tunda Dua kali dalam satu minggu pihak PN Tangerang.

Sedangkan pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) sedang melengkapi fakta untuk persidangan, Sri Afriani juga mengatakan bahwa saat ini Tim Kuasa Hukum sudah mendapatkan surat ASESMEN hasil tes dari Kementrian HUKUM dan HAM.

Para terdakwa di jerat pasal 111 kepemilikan ganja pasal 112, 114 dan 127 rehabilitasi dan untuk di ketahui dalam persidangan Jaksa JPU Satu Gojali, SH Jaksa ke Dua Adib Fahri, SH dan Jaksa ke Tiga Neisa Sabrina, SH dan Majelis Hakim R.Suryo Aji, SH, MH.

Kuasa Hukum terdakwa tidak memaparkan berapa banyaknya barang bukti yang di miliki para terdakwa yang dalam keterangan saksi Polisi terdahulu barang bukti di temukan sebanyak 0,51 gram dan di atas kasur rumah Dede ada sabu-sabu seberat 0,31 gram dan ganja 73 gram, bukan 0,52 gram.

Banyaknya barang bukti yang dimiliki para terdakwa dalam jumpa pers tidak di ungkap oleh Kuasa Hukum terdakwa, 0,82 gram sabu-sabu dan 73 gram ganja sebagai barang bukti tidak bisa di pungkiri dalam fakta persidangan sebagai kepemilikan, bukan pengguna Karena belum sempat pakai sudah di tangkap.

Gedung Pengadilan Negeri Tangerang, foto istimewa Faktakhatulistiwa.com

Peran terdakwa Akmal Sohaerudin Jamil sebagai prekusor kejahatan narkotika menyuruh membeli dengan memberi uang lewat transfer untuk membeli sabu-sabu seberat 1 dji atau 1 gram seharga 1,6 juta dengan Cara patungan, fakta sidang saksi Polisi juga di benarkan terdakwa.

Terdakwa Akmal Sohaerudin Jamil belum memakai sabu-sabu yang sudah di beli terdakwa Dede, sedangkan peran Syarifudin dan muhammad taufik juga memberi uang seperti peran Akmal.

Ngototnya Kuasa Hukum terdakwa agar Jaksa dan Hakim bisa memutus perkara ini di pasal 127 sangat riskan, karena para terdakwa belum memakai narkotika jenis sabu-sabu dan ganja tersebut.

“Rehabilitasi bukan untuk pengedar, terdakwa sebagai pemakai harus di rehabilitasi,” ujar Kuasa Hukum terdakwa.

Asesmen seharusnya di keluarkan oleh Polisi dalam penyidikan dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) yang di miliki polri di Jakarta Timur.

Kuasa Hukum terdakwa dalam Persidangan diduga mengakui sudah memiliki asesmen dan di kuatkan saksi ahli yang di datangkan dari yayasan rumah sakit yang ada di Ciputat Tangerang Selatan dan saksi ahli pidana, Josua, SH, MH.

Saksi ahli pidana Josua SH tidak asing lagi dengan Awak media hukrim Karna sering ber acara di pengadilan negeri Tangerang. Sebagai pengacara.

Seharusnya kuasa hukum terdakwa menghadirkan saksi ahli dari RSKO dari Rumah Sakit Polri dan saksi ahli pidana dari Badan Narkotika Nasional ( BNN ) kalau kepengen melarikan pasal 127.

Kuasa hukum Akmal Sohaerudin Jamil anak Wakil Walikota Tangerang, harus berhadapan dengan Jaksa Neisa Sabrina, SH anak Gubernur Banten sebagai JPU.

Beranikah anaknya gubernur Banten sebagai JPU menolong anak Wakil Walikota Tangerang yang terjerat narkotika, dengan banyaknya barang bukti akan di pertaruhkan jabatanya sebagai Jaksa Pengayom Keadilan.

Menurut Humas pengadilan negeri Tangerang Arif, SH, MH,

“Ini masalah kecil kok jadi ramai Permasalahanya di mana?,” ujar Arif.

“Itu Kajari kan punya Wabsite ke pejabat Pemda, apa ga bisa komunikasi meredam pemberitaan wartawan pengadilan,” ujar Humas Pengadilan heran.

Selama perkara anak Wakil Walikota di tangkap, awak media selalu memantau dan bahkan P.19 berkas di tolak jaksa pun awak media memantau dan berita sudah ramai hingga Jaksa bingung Menuntut Anak Wakil Walikota Tangerang.

Perkara lengkap P.21 awak media pun lebih gencar pemberitaannya, bahkan p<span;>erkara lengkap P.21 awak media pun lebih gencar pemberitaannya, bahkan perkara baru di limpahkan sebelum sidang pun berita sudah menghiasi halaman media koran maupun media OnLine.

“Penundaan sidang dua kali bukan oleh PN Tangerang, yang menunda sidang adalah JPU di karenakan (dugaan) Kasi Pidum Dapot, SH  terpapar Covid-19, semenjak hari Kamis, 17 Desember 2020 Kasi Pidum sudah tidak masuk kantor Kejaksaan,” ujar salah satu Jaksa Kejaksaan Negri Kota Tangerang.

© 2020 Fakta Khatulistiwa. All Rights Reserved.