NEWS TICKER

H.Soit Gugat Tanah Landasan, Belum Dilunasi

Selasa, 12 Januari 2021 | 12:38 am
Reporter: Oki
Posted by: Indra Rubadi
Dibaca: 263
Majelis Hakim Ely (Kerudung Kuning) melihat batas tanah H.Soid foto istimewa Faktakhatulistiwa.com

KABUPATEN TANGERANG, Faktakhatulistiwa.com – Sidang setempat di lahan Bandara Soetta (Soekarno Hatta) di lakukan dari luar area Bandara Soetta. Majelis Hakim Ely, SH di bantu hakim anggota Sucipto, SH, MH dan R.Aji Suryo, SH, MH. Hanya melihat lokasi tanah dari jarak 1 kilo meter lebih.

“Letak tanah milik ahli waris H.Soit sudah menjadi landasan pesawat terminal 3,” ujar warga yang ikut menyaksikan kedatangan Hakim di lokasi yang hanya melihat dari jauh sambil mendengarkan penjelasan kuasa hukum penggugat dan tergugat dari luar pagar Bandara Soetta.

“Hakim pengadilan hanya memastikan lokasi tanah yang belum di bayar semua oleh Angkasa Pura II,” ujar Een legal dari tim pengacara Tanjung Cs.

“Kami hanya menggugat angkasa pura yang ingkar janji,” ujar Tanjung di lokasi ketika di temui awak media,menjelaskan gugatan sisa uang pembayaran tanah milik keluarga ahli waris H.Soid Sebesar 5,4M (Miliyar -red).

“Ahli waris baru menerima bayaran 2,8M. Sisanya sampai saat ini masih 2,6M yang belum di bayar oleh Angkasa Pura,” ujar Tanjung SH, yang juga menjelaskan bahwa uang sudah di titipkan di Pengadilan (konsinyasi) kenapa Angkasa Pura bayar hanya separuh.

Dari awal gugatan ini pun kami sudah di presure bahkan ketika mediasi pun kami di suruh mundur oleh Hakim mediasi Arif, setelah kami mengajukan sidang setempat, Hakim mediasi pun seperti tidak senang,

“Kan saya bilang ga usah di terusin, cabut aja,” ujar para legal menirukan ucapan Hakim mediasi.

“Bahkan ketika kita sidang ps pun tadi kuasa hukum Bandara berkata, pengacara Sianturi datang kesini, urusanya apa dengan pengacara Sianturi?,” ujar Tanjung dengan menjelaskanbahwa tim berurusan dengan Angkasa Pura yang menahan pembayaran sisa uang H.Siod sebesar 2,6M

“Sekarang, kalau tanah itu ada yang mengakui seperti kata pengacara Bandara Sianturi, uang konsinyasi kan sebesar 5,4M sudah di bayarkan separuh sebesar 2,8M ke H.Soid, kalau Sianturi menggugat terus menang, berarti uang konsinyasinya kan masih 5,4M, berarti uang apa yang di bayarkan ke H.Soid sebesar 2,8M tersebut,” ujar Tanjung.

“Presure yang kami dapat bukan dari Hakim mediator saja, dari pengacara Angkasa Pura pun Kami dapatkan. Mereka mau mengakali uang sisa 2,6M supaya di anggap tidak ada,” tandas Tanjung.

Tanah H.Soid sudah menjadi landasan pesawat RunWay 3, Lokasi tanah yang ada bendera sebelum pesawat, foto istimewa Faktakhatulistiwa.com

Ahli waris H.Soit warga Rawa Rengas menuding Pengadila Negeri (PN) Tangerang tidak konsisten atas pembayaran pembebasan lahan yang di konsinyasi oleh pembebasan Bandara Soetta.

Proyek pembebasan peruntukan Bandara Soetta melalui pihak PT.Angkasa Pura II sebagai pelaksana pembayaran ganti rugi khususnya di wilayah Desa Rawa Rengas Kabupaten Tangerang banyak meninggalkan masalah.

Salah satu dari masyarakat Desa Rawa Rengas atas nama ahli waris H.Soit telah melakukan upaya meminta sisa ganti kerugian tanah yang di bebaskan, dari total kurang lebih Rp 5,4M kepada pihak PT.Angkasa Pura II tidak mendapatkan hasil dengan alasan dana ganti rugi sebesar kurang lebih 5.4M telah dititipkan (konsinyasi).

PN Tangerang sebagai penyelesaian terakhir masalah pembebasan lahan. Karena lahan tersebut telah dipersengketakan di Badan Pertanahan Kabupaten Tangerang sehingga pihak PT.Angkasa Pura II tidak dapat merekomendasikan ke PN Tangerang untuk dapat mencairkan sisa dana tersebut kepada para ahli waris H.soit.

Kami dari kantor Hukum S.A.Tanjung & Rekan, atas dasar tidak adanya itikad baik dan penjelasan yang kurang memuaskan telah mendaftarkan perkara ingkar janji (wan prestasi) kepada PT.Angkasa Pura II dan sudah di lakukan Sidang Setempat.

Pihak Angkasa Pura II selalu menjelaskan tidak dapat merealisasikan pembayaran sisa konsinyasi kurang lebih sebesar Rp.2.6M karena sedang dipersengketakan dengan pihak Intiriansa Sianturi, namun Pengacara yang mengatakan tanah dimiliki Sianturi belum juga ada bukti kepemilikannya.

Pihak Badan Pertanahan Nasional hanya menjelaskan lahan milik almarhum H.Soit sedang di persengketakan dan dananya telah di konsinyasikan.

Atas dasar tidak adanya keadilan yang diterima kemudian para ahli waris H.Soit yang rata-rata tidak paham hukum kemudian meminta bantuan hukum untuk menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi, Kami berharap ke adilan masih ada di pihak orang miskin,” harap Tanjung.

© 2020 Fakta Khatulistiwa. All Rights Reserved.