SERANG, Faktakhatulistiwa.com – Ketua Umum DPP Persatuan Pendekar Persilatan Seni dan Budaya Banten Indonesia (PPPSBBI) Andika Hazrumy dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelestari golok Indonesia dalam acara seminar Internasional bertajuk Golok Banten di Mata Dunia yang digelar Polda Banten di Markas Polda Banten, Kota Serang, Sabtu (12/11).

Andika yang adalah juga mantan Wakil Gubernur Banten tersebut dinilai berkontribusi terhadap pelestarian seni budaya Banten termasuk golok Banten, baik dalam kapasitas Andika sebelumnya sebagai Wagub maupun sebagai Ketum DPP PPPSBBI.

Selain Andika, sejumlah tokoh juga turut dinobatkan sebagai pelestari golok pusaka Indonesia, yakni :

  1.  Dirtahti Polda Banten AKBP Agus Rasyid, Konseptor Pelestari Golok Banten,
  2.  Ki Kumbang, Pendiri Museum Golok Indonesia,
  3.  Mr. Paul Van Der Loo, Komunitas Pencak Silat Indonesia di Belanda.

“Tentu saja (penghargaan) ini saya persembahkan untuk seluruh Pendekar Banten (sebutan bagi apara anggota PPPSBBI) dan kalangan seni/budaya khususnya dunia persilatan di Banten,” kata Andika kepada wartawan usai acara.

Menurut andika sudah menjadi suatu keharusan bagi masyarakat Banten khususnya yang menggeluti seni dan budaya seperti pencak silat untuk turut mendukung upaya-upaya pelestarian golok Banten. Lebih jauh Andika mengapresiasi Polda Banten dan seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pengajuan Golok Banten sebagai warisan budaya dunia kepada Unesco dimana seminar tersebut sebagai bagian dari upaya dimaksud.

“Apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Kapolda Banten (Irjen Pol Rudy Heriyanto) dan jajaran sebagai inisiator pengajuan Golok Banten sebagai warisan budaya dunia ini. Juga kepada para pihak seperti Museum Golok Indonesia dan komunitas pelestari Golok dari manca negara,” paparnya.

Seminar Internasional bertajuk Golok Banten di Mata Dunia tersebut digelar Polda Banten untuk mendukung penetapan golok Banten menjadi salah satu warisan budaya dunia dari Indonesia kepada Unesco.

Dalam sambutannya, Kapolda Banten Irjen Pol Rudy Heriyanto mengatakan Banten merupakan suatu wilayah yang penuh dengan nilai sejarah.

Menurutnya, Banten merupakan sebuah wilayah yang penuh dengan sejarah perjuangan dalam mendukung upaya kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Kapolda mengatakan salah satu bukti perjuangan para leluhur tanah Banten melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan dengan peninggalan senjata tradisional yang salah satunya dikenal khususnya di daerah Banten dengan sejuta pusaka berupa golok.

Golok merupakan sebuah senjata yang punya nilai histori tinggi sejak era kerajaan Sunda atau Pajajaran, era Kesultanan Banten, sampai dengan era kemerdekaan hingga saat ini.

“Peradaban seni tempa golok Banten telah diuji pada laboratorium Metalurgi yang mencakup unsur kimia atau material, tingkat kekerasan besi maupun foto mikro,” tuturnya.

Menurut Kapolda betapa luar biasa adiluhungnya para empu atau pandai besi di wilayah Banten pada zaman dahulu sehingga golok Banten mampu bertahan lestari hingga ratusan tahun atau mungkin ribuan tahun.

Bahkan sampai saat ini masih bisa dilihat wujud keelokan seni baik bentuk, dapur, pamor, model, atau jenis hal lainnya yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata.

Asal Usul Kata Golok

Menurut Ki Kumbang, kata golok berasal dari bahasa Sunda kuno yang sudah ada sejak tahun 1518 masehi.

Meski begitu jauh sebelum tahun 1518 kata golok sudah ditemukan pada dua kitab Sunda kuno Sanghyang Siksakanda Ng Karesian. Namun, pada salah satu kitab tersebut tidak tertulis keterangan waktu atau tahun.

Ki Kumbang mengaku melakukan riset dan penelitian mengenai golok Banten. Salah satunya dengan meneliti material yang terdapat pada golok Banten zaman dahulu pada laboratorium metalurgi milik Institut Teknologi Bandung.

“Dari penelitian itu ditemukan bahwa satu buah golok Banten mengandung 10 material berbeda, ada titanium, silica, belerang dan lain-lain. Kalau golok sekarang mungkin hanya satu material saja,” katanya.

Ia mengklaim selama ini masyarakat awam salah mengira bahwa golok adalah senjata umum dan kujang adalah senjata para raja di tanah Sunda. Ki Kumbang kemudian mendasarkan argumentasinya tersebut pada lembar ke-17 kitab Sanghyang Siksakanda Ng Karesian, golok senjata para raja dan kujang senjata kaum petani.

“Mungkin banyak lukisan Prabu Siliwangi memegang kujang. Bagi saya pribadi, itu filosofinya di mana seorang raja sangat menghargai sampai ke tingkat bawah,” kata Ki Kumbang.

Untuk diketahui, puluhan golok bersejarah dipamerkan dalam seminar yang diikuti hampir oleh 13 perwakilan Negara yang digelar secara online maupun offline, di antaranya :

  • Perancis,
  • Italia,
  • Amerika,
  • Meksiko,
  • Malaysia.

Acara juga dihadiri Wakapolda Banten Brigjen Pol Ery Nursatari, Danrem 064/MY Brigjen TNI Inf Tatang Subarna, Dan Group 1 Kopassus Kolonel Inf Romeo Jangga Wardhana, dan Pj Gubernur Banten Al-Muktabar.

Sumber : Ampera Situmeang
Penerbit : Redaksi Faktakhatulistiwa.com

follow and like us:
Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan